Ngajad da Rumah Panjai Pontianak

Ngajad da Rumah Panjai Pontianak
Ajat Temuai Datai ( Mualang )

Kamis, 24 September 2020

CERITA MENGAYAU TUA' LANG NGINDANG MASYARAKAT DAYAK IBAN MUALANG KALBAR

 

KISAH MASYARAKAT DAYAK IBAN MUALANG DI MASA LALU

 

“TUA’ LANG NGINDANG ”

 Panglima Lang Ngindang

 ( Versi Bahasa Mualang)

 

Oleh: John RP

 

 


  Hilang Kisah Timbol Cerita, Tangkap Kerama’ Jual ke Cina, Bula’ Aku, Bulak Urang Tuai.

Nyurok Nyemah Ku Nusoi Ka bala Kita’

Kisah Urang Kelia’,

Mali Mulut Salah Jako’, Jari Salah Jamah, Minta Maaf Ka Kitak.

  

Dayak Mualang adalah satu diantara kelompok Dayak Iban yang dimasa lalu mengamalkan tradisi mengayau. Diceritakan pada masa lalu, ada seorang panglima perang yang terkenal di zamannya bernama Tua’ Lang Ngindang (Tua’ dalam Bahasa kelompok Iban adalah gelar seorang  Panglima Perang).

 Tua’ Lang Nginang jika di artikan  secara harafiah adalah Burung Elang melayang diudara mengintai mangsa,  tentu saja ini hanya sebuah gelar/ julukan bagi seorang panglima perang orang mualang yang memiliki kelebihan mengintai musuhnya.

 Di masa lalu, dalam tradisi mengayau (head hunter), kehidupan masyarakat selalu mengandalkan para pendekar-pendekar (manok sabung) maupun para jagoan-jagoan yang dijuluki Bujang Berani. Para manok sabung adalah meeka yang mempunyi kelebihan khusus dan pengalaman perang yang banyak sedangkan bujang berani, umumnya para pemuda-pemuda yang masih bujang yang memiliki keberanian untuk menguji nyali dan menimba pengalaman melakukan pengayauan, dimasa itu kewajib mengayau mendapatkan kepala musuh diluar wilayah kelompoknya adalah suatu pujaan dan di agungkan oleh kelompoknya.

 Berdasarkan kisah orang tua kepada generasi saat ini, Tua’ Lang Nginang ketika turun mengayau selalu mengintai keberadaan musuh terlebih dahulu, terutama ia gemar naik ke atas pohon yang tinggi, gemar bersembunyi diantara rampu’ (semak), rimbunnya lalang, dan tak pernah bisa ditebak musuh keberadaannya. Dimasa lalu daerah mualang yang berbatasan dengan kelompok suku lainnya, kerap kali menjadi jalur lewat oleh para pengayau, yang selalu menyerang tanpa diketahui dari mana dan kelompok mana, sebab daerah mualang adalah batas dengan berbagai macam sub kelompok Dayak lainnya. diantaranya, berbatas dengan wilayah Jangkang (jengkang/chengkang), berbatasan dengan Ketungau Sesaek, dan suku-suku lainnya. Didaerah seperti inilah para bujang berani menguji nyali guna berburu kepala untuk mendapatkan mas kawin (hadiah) berupa kepala musuh sebagai syarat melepaskan masa akil balik dan sudah mampu menjaga wilayahnya dan melindungi kelompoknya, jika berhasil maka dapat membawa pulang kepala manusia namun jika terbunuh maka cukup dikenang oleh kelompoknya.

 Disuatu ketika Tua’ Lang Ngindang bersama pengikutnya melakukan ekspedisi berburu kepala kewilayah batas teritorial musuhnya, Tua’ Lang Nginang membawa serta bala bujang berani yang menyertai perjalanan nya sebanyak sepuluh orang. Diantara para musuhnya nama Tua’ Lang Nginang selalu membuat musuh ragu dan segan untuk menghadapinya, hal ini dikarenakan keahlian, pengalaman strategi mengayau Lang Nginang, begitu lihai, dan sulit ditebak musuh. Hanya musuh tertentu yang merasa sepadan saja yang seringkali mencoba untuk masuk wilayah orang mualang di masa lalu. Umumnya yang masuk wilayah mualang sangat jarang yang dapat kembali ke daerahnya dan berakhir terkayau. Sebaliknya Tua’ Lang Nginang ketika masuk wilayah musuh seringkali pulang kedaerahnya membawa pulang kepala musuh.

 Suatu saat rombongan Tua’ Lang Nginang menyusuri wilayah musuh kayaunya, ia menemukan sebuah tempat yang baik untuk beristirahat, dibawah sebuah pohon tapang yang sangat tinggi biasanya tempat lebah bersarang. Disaat mereka sedang beristirahat, satu diantara pengikut Tua’ Lang Ngindang mengintai keberadaan musuh dengan cara melihat bekas / jejak, mencium bau arah angin, maupun secara auditif / pendengaran mengikuti arah angin, serta tanda burung tertentu. Tak lama kemudian terdengar suara samar-samar bunyi manusia lain yang lewat, dan bunyi tersebut seakan ramai atau mengisyaratkan sebuah kelompok. Oleh pengikut Tua’ Lang Nginang diidentifikasikan bahwa ada kedatangan kelompok lain melalui sebuah jalur menuju kearah mereka. Tua’ Lang Nginang mengatur strategi dengan cara memerintahkan pengikutnya berpencar mencari tempat yang baik untuk menyergap musuh. Satu diantara strategi nya adalah meniinggalkan bekas guna menarik perhatian musuh agar mendekati bekas tersebut dan konsentrasi terhadap bekas yang sengaja dibuat oleh bala mualang. Setelah pengikut Tua’ Lang Nginang berpencar, Tua’ Lang Nginang naik keatas pohon tapang sampai ke tempat yang dirasa cukup untuk mengintai musuh yang digiring masuk ke rencana serangan kelompok Tua’ Lang Nginang. Tak lama kemudian mulai tampak rombongan pengayau lainnya menuju masuk kearea tempat Tua’ Lang Nginang beserta pengikutnya mempersiapkan diri. Setelah dirasa  tepat sesuai strateginya, maka Tua’ Lang Nginang Nyelaing (teriakan khas perang orang mualang) teriakan tersebut didengar oleh musuh dan musuh mulai Nariu (teriakan perang), menyerang arah suara yang ditimbulkan oleh Lang Nginang. Musuh mengepung pohon kayu dalam radius tertentu guna mendapatkan korban kayau, dalam hal ini Tua’ Lang Ngindang yang mengintai dari atas pohon. Pihak musuh telah meresa yakin bahwa kali ini Tua’ Lang Ngindang menjadi sasaran kayau mereka, maka mereka memperagakan tarian dan teriakan perang, mereka menari dan mengibas-ngibaskan Nyaburnya mengepung area pohon tapang tempat Tua’ Lang Nginang bersembunyi. Tak berselang lama kemudian tiba-tiba terdegar suara bunyi suara burung kenyalang yang ramai dan saling bersaut-sautan disertai datangnya angin kuat (kudi’), melihat situasi tersebut Tua’ Lang Nginang melepaskan baju maramnya (baju adat tenun Dayak mualang)  mengaitkannya pada suatu dahan dipohon tersebut agar tetap terihat,  disaat bersamaan Tua’ Lang Ngindang meloncat dari pohon tersebut kepohon lainnya dan menuju ke kelompoknya yang sedang menunggu tanda dimulainya serangan guna menyergap musuh. Disaat angin dan suara burung kenyalang  berangsur - angsur menghilang, musuh yang telah panik, beberapa diantaranya menuju pohon tapang tempat Tua’ Lang Nginang mengintai dan naik keatas ingin mengambil Tua’ lang Nginang segera mungkin. Setelah musuh tiba diatas pohon mereka berteriak bahwa Tua’ Lang Nginang menghilang (ayas), yang ditemukan hanya baju maram saja. Mendengar informasi teriakan temannya dari atas pohon, bala pasukan musuh langsung seketika menyebar mulai tampak ketakutan bahwa orang mualang bisa menghilang. Saat itulah pasukan Tua’ Lang Nginang  tiba-tiba muncul dari balik lebatnya hutan, dari balik pohon, dari bawah rampuk ( semak-semak yang rendah) menyergap musuh – musuhnya, mereka Nyelaing / Mangkas (melakukan teiakan perang yang khas, guna mengambil semangat musuh) mereka mencabut nyaburnya dan bertarung dan  banyak menewaskan musuh. Pemimpin perang pasukan musuh / Panglima perang musuh berhadapan dengan Tua’ Lang Nginang, ia berusaha memantapkan / mengibas-ngibaskan nyaburnya ke berbagai arah guna mengenai Tua’ Lang Nginang, namun disuatu kesempatan Tua’ Lang Nginang meloncat tinggi dan memekik (nyelaing/ mangkas) membuat panglima musuh pucat dan mati semangat terbujur kaku tak sempat mengangkat terabai (perisai) dan saat itu Nyabur (pedang) Tua’ Lang Nginang dapat memancung (mumpong) kepala panglima musuh tersebut. Di situasi yang berbeda pula bala bujang berani mualang telah bertarung dan merobohkan satu persatu bala musuh mengakibatkan musuh habis terbunuh. Sementara musuh yang semula naik ke pohon, tidak berani turun dan lari. Bala pasukan Tua’ Lang Nginang memaksa musuh yang tersisa tersebut untuk turun dan menjadi tawanan (ulun) dibawa ke menua ( wilayah) mualang. Dari sekitar dua puluh musuh yang datang menyerang hanya tiga orang yang hidup dan menjadi tawanan. 

Tua’ Lang Nginang bersama pasukannya telah berhasil mengahkan musuh, mereka pulang ke menua mualang, kemenangan perang mereka disambut dengan upacara adat “Ajat Temuai Datai” (menyambut tamu kehormatan / tamu agung yang pulang dari ekspedisi mengayau dan mengalahkan musuh) ketika masuk ke wilayah mualang. Diawali dengan Nyelaing ( terikan perang) sebanyak tujuh kali sebagai tanda bahwa mereka telah menang dan taka da korban dipihaknya. Adapun kepala hasil kayau (hasil penggal) disambut oleh para wanita-wanita mualang menggunkan wadah beralaskan kain tenun (kain kebat) dan menari / ngajat nyamut pala’. ( tari menyambut kepala manusia).

Berdasarkan pengalaman yang kebeberapa kali pengayauan dari menua Jangkang ke daerah mualang dimasa lalu, selalu gagal, maka timbul istilah orang Jangkang memberikan gelar kepada Orang Mualang dengan sebutan Orang Engkayas artinya orang yang bisa menghilang ( engkayas / ayas = menghilang) dan juga timbul istilah dikalangan orang mualang jaman dahulu, jika mengayau ke daerah Jangkang mereka menggunakan istilah mengayau ke arah matahari padam dan juga jika mengayau ke Jangkang, ibaratnya menangkap ayam dalam kurungan ( upa berap manok dalam engkerungan) sebaliknya orang jangkang juga memunyai istilah jika mengayau ke daerah mualang diibaratkan makan lia / jahe di tengah panas matahari (makan lia’ tengah ari) mengandung arti panas atau susah atau untung-untungan jika hidup. Demikianlah cerita orang mengayau di jaman dahulu sebagai sejarah peristiwa, buah cerita generasi masa kini.

 

Sumber : Masyarakat daerah Belitang Hilir, Menawai. 1995

Da tulis ulang Th. 2020


Keterangan:


1.     Tua’ dalam bahasa Iban Mualang adalah : Panglima Perang.

2.  Manok Sabung merupakan istilah, guna menyebut para ksatria-ksatria / pendekar-     pendekar jago-jago yang dapat diandalkan / wakil tuak di medan kayau.

3.  Bujang Berani adalah para pemuda / bala yang keberaniannya dalam bertarung tak diragukan, bujang berani adalah petarung sejati dalam mengayau.

4.     5.Gambar Ilustrasi

Tidak ada komentar: