Ngajad da Rumah Panjai Pontianak

Ngajad da Rumah Panjai Pontianak
Ajat Temuai Datai ( Mualang )

Kamis, 24 September 2020

CERITA MENGAYAU VERSI IBAN MUALANG KALBAR (TUA' TEMAH )

 

KISAH MENGAYAU DAYAK IBAN MUALANG

“TUA’  TEMAH”

(PANGLIMA  TEMAH)

 Versi Bahasa Indonesia

 Oleh: John RP

 

 

 

 

Hilang Kisah Timbol Cerita, Tangkap Kerama’ Jual ke Cina, Bula’ Aku, Bulak Urang Tuai.

Nyurok Nyemah Ku Nusoi Ka bala Kita’

Kisah Urang Kelia’,

Mali Mulut Salah Jako’, Jari Salah Jamah, Minta Maaf Ka Kitak.

  

Dayak Mualang adalah satu diantara kelompok Dayak Iban yang dimasa lalu mengamalkan tradisi mengayau. Dimasa itu ada seorang  panglima perang yang terkenal di zamannya bernama Tua’ Temah (Tua’ dalam Bahasa Iban adalah gelar seorang Panglima Perang). Di perkirakan sekitar tahun 1300 (seribu tiga ratus) tahun lalu, seperti yang pernah dituturkan oleh orang-orang tua kepada generasi muda tahun 1990an, ada seorang panglima perang (Tua”) yang bernama: Temah.

Menurut tradisi masa lalu ketika orang-orang Dayak masih melakukan tradisi mengayau, para manok sabung (pendekar-pendekar), para bujang berani (pemuda-pemuda pemberani) selalu siaga menjaga daerah / wilayah yang kerap kali menjadi jalur masuk musuh kedaerah nya, sebab jika daerahnya tidak dijaga maka daerah tersebut sering mendapatkan serangan dari pengayau yang datang. Dayak Mualang merupakan satu diantara kelompok Dayak iban atau yang disebut sebagai Ibanik mempunyai wilayah yang berbatasan dengan berbagai kelompok Dayak lainnya, hal ini menyebabkan mereka banyak mempunyai pahlawan-pahlawan suku yang gagah berani dan sakti guna menjaga menua mereka. Tua’ Temah adalah seorang panglima perang yang mempunyai pengalaman mengayau, dan satu diantara tua’-tua’ yang menjaga wilayah Dayak Mualang, beliau banyak memiliki kelebihan, berani namun bijaksana.

Suatu hari Tua’ Temah bermimpi bahwa padi ladangnya diserang  kekuatan roh jahat yang mengakibatkan  hama padi dan harus ada kekuatan yang mampu menjaga agar padi diladangnya bisa tumbuh lebih baik dan bisa panen lebih banyak. Untuk menghadapi  serangan roh jahat tersebut, mereka harus mendapatkan  roh penjaga agar serangan tersebut bisa digagalkan, adapun roh penjaga dimaksud yaitu seorang yang didapatkan melalui ekspedisi mengayau (berburu kepala manusia). Dalam mimpi tersebut, mengisyaratkan harus melakukan pengayauan ke daerah lain satu diantaranya: daerah kayong wilayah masyarakat ulu ai’. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka serangan hama padi / wabah merusak tanaman pangan masyarakat, dalam mimpi tersebut Tua’ Temah tidak di ijinkan pulang ke kampung halamannya sebagai silih jika kepala manusia tidak didapatkan. Hal ini membuat beliau bersedih dan akhirnya mohon petunjuk melalui prosesi adat bedara’ (upacara adat). Saat bedara, Tua’ Temah memanggil Sengalang Burong mohon petunjuk akan melaksanakan ekspedisi megayau, dan diperoleh pertunjuk melakukan ekspedisi ke daerah menua Ulu Ai’. Sebelum melaksanakan ekspedisi mengayau, mereka sepakat siapa saja yang akan ikut dalam ekspedisi mengayau, sebab Tua’ Temah mengatakan kali ini dirinya belum tentu pulang ke kampung  dan berharap mereka yang ikut nantinya pulang ke kampung setelah ekspedisi mengayau. Setelah berembuk dan sepakat, Tua’ Temah berencana membawa sekitar 20 (dua puluh) orang pengikut dan membawa serta 2 (dua) orang manok sabung (pendekar) yaitu: Macan pala dan Macan geroba.  Setelah mereka berembuk dan mempersiapkan keperluan ekspedisi mengayau, kemudian mereka mulai menyusuri arah yang dituju, mereka melewati menua kedeh, di menua itu mereka tidak mendapat hambatan dari musuh dan terus melanjutkan perjalanan ke batang Kapuas. Di seberang batang kapuas mereka menghadapi serangan musuh yang menghadang jalan mereka maka bala Tua’ Temah melakukan pertarungan ditempat itu menghadapi musuh, dan terjadilah pertarungan sengit bala Tua’ Temah dengan bala musuh dari seberang kapuas, mereka menghunus pedang, nyabur (sejenis pedang), Tumbak sangkoh (tombak sekaligus sumpit) melawan bala musuh dan di daerah ini mereka bertarung melawan musuh yang menyerbu dan mengepung keberadaannya. Pihak musuh membawa beberapa orang kuat yang disebut juga Tua’, maju menerjang garang kearah bala Tua’ Temah dan pasukannya  namun bala Tua’ Temah tanpa gentar menghadapi lawannya. Bala Tua’ Temah dengan tetap tenang dan gagah berani melayani serangan musuh, membuat satu persatu musuh tumbang melawan bala Tua’ Temah dalam mempertahankan diri dan mengimbangi lawannya. Adapun lawan  yang menyerang jumlahnya lebih banyak dari pada pasukan Tua’ Temah. Disaat yang tepat suatu ketika Tua’ Temah meloncat tinggi sambil meneriakan teriakan perang mengibaskan nyaburnya dan berhasil memancung kepala Tua’ Musuh, hingga satu diantara Tua’ musuh mati terpenggal. Melihat satu diantara pemimpinnya terbunuh, pihak musuh mulai goyah dan tak se-agresif awal mereka mengepung bala Tua’ Temah. Dan tanpa diduga, seorang lagi Tua’ musuh maju menerjang kearah Tua’ Temah sambil menumbukkan tombaknya menghunjam kearah Tua’ Temah, Beliau dengan gesitnya menangkis, dengan perisainya dan suatu ketika tombak musuh menancap pada perisai Tua’ Temah hingga mata tombak musuh sulit dicabut / lengket di terabai (perisai) Tua’ Temah. Kesempatan demikian digunakan Tua’ Temah mengarahkan tebasan nyaburnya kearah leher musuh dan tepat menjatuhkan kepala musuh. Melihat temannya mati menghadapi Tua’ Temah, datang  seorang lagi Tua’ musuh mengarahkan nyaburnya kearah Tua’ Temah, dan sekali lagi Tua’ Temah dapat menghindar serangan tersebut serta membalas serangan Tua’ musuh dengan cara memancung kepala musuh dan mengakibatkan semua pendekar (Tua’ musuh) mati. Melihat hal tersebut sisa bala pasukan musuh mundur perlahan, sedangkan bala pasukan Tua’ Temah dan Manok Sabungnya yakni Macan Geroba dan Macan Pala terus menekan dan menumbangkan pengayau-pengayau dari seberang  kapuas, bala Tua’ Temah mengepung jalur pelarian ke segala arah, menyebabkan musuh habis terbunuh. Setelah semuanya berakhir, Tua’ Temah bersama pasukannya meneruskan perjalanannya.  Setelah jauh berjalan, bala Tua’ Temah membagi pasukannya lima orang dipimpin Macan Pala mendahului Tua’ Temah guna mengamankan jalur yang akan dilewati sedangkan Tua’ Temah dan Macan Geroba beserta 15 (lima belas) orang pasukannya menyusul kemudian. Setelah sekian lama perjalanan menyusuri arah sungai adau, rombongan Tua’ Temah dan Macan Geroba mendengar suara teriakan perang, dan ternyata bala Macan Pala sedang menghadapi musuh dari dalam sungai adau yang datang menyerang, melihat hal tersebut rombongan Tua’ Temah dan Macan Geroba turut menyerang dan mengepung lawan mereka dan memutus jalur serangan lawan, maka lawanpun banyak yang berguguran menghadapi rombongan pengayau bala mualang. Kali ini mereka bertarung dengan para pengayau yang tak diketahui dari mana datangnya dan tiba-tiba menyerang mereka, hal ini membuat kedua manok sabung Tua’ Temah yaitu Macan Pala dan Macan Geroba menerjang, bertahan dan menyerang musuh dari berbagai sisi, serta menjaga masing-masing bala mereka agar tak terbunuh oleh pemimpin lawan. Macan Pala dengan keahlian khususnya memiliki kecepatan yang luar biasa berhasil lebih dulu membunuh pemimpin pasukan musuh (Tua’)  musuh. Sementara Macan Geroba dengan keahlian khususnya membuat racun garis guna membatasi serangan musuh dan pertahanan, mengakibatkan musuh yang melewati garis pembatas tersebut hilang semangat dan lemah, maka dengan mudah bala Tua’ Temah memancung kepala musuh yang telah hilang semangat tersebut, seperti nyerampang ikan yang tak bisa lari. Karena pemimpin dan pasukan musuh banyak yang tewas, sebagian musuh yang tersisa melarikan diri namun bala pasukan mualang tidak mengejar mereka masuk kehulu sungai adau. Setelah semuanya kembali tenang, Macan Pala, Macan Geroba dan Tua’ Temah mengatur strategi dengan membagi proses perjalanan menuju arah tanah Ulu Ai’.  Macan Pala bersama lima orang anak buahnya tetap tinggal di tempat itu (muara sungai adau) guna menghadang apabila musuh mengejar bala Tua’ Temah nantinya. Sedangkan Macan Geroba mengikuti Tua” Temah dan akan berpisah pada suatu tempat yang nantinya ditentukan. Setelah mengatur strategi selanjutnya rombongan Tua’ Temah dan Macan Geroba melanjutkan perjalanan. sebelumnya, beliau berpesan kepada Macan Pala dan Macan Geroba, cukuplah disini kalian mengantar dan jika nantinya Tua’ Temah menuju ke Ulu Ai’ dan tak ada kabar / berita maka Macan Pala dan Macan Geroba jangan menyusulnya, pulanglah ke menua mualang membawa pala kayau yang mereka dapatkan, hal ini karena Tua’ Temah memang telah berniat melanjutkan perjalanan sesuai mimpinya bahwa dia belum tentu kembali. Macan Pala dan Macan Geroba menyetujui dan bersyukur bisa ikut menjaga jalur perjalanan yang dilalui oleh Tua’ Temah, dan berharap Tua’ Temah memberikan kabar. Selanjutnya mereka mereka berpisah Macan Pala menjaga alur yang dilalui agar pengayau tak mengejar mereka, macan geroba  mengikuti Tua’ Temah sampai pada suatu tempat mereka berpisah, yaitu  simpang kearah muara sekayam sanggau,  suatu ketika disaat perjalanan telah melewati sebuah wilayah lainnya mereka mendapatkan serangan lawan berjumlah sekitar seratus orang dari daerah  ribun yang melakukan ekspedisi mengayau sepanjang kanan kapuas. Bala pasukan Tua’ Temah kali ini berhadapan dengan musuh yang agresif dan ganas mereka menyerbu dan membagi pasukannya menjadi dua serangan. Serangan pertama sekitar 50 (lima puluh) orang menerjang kearah bala Tua’ Temah dan pasukan musuh yang kedua menyerang kemudian sekitar 50 (lima puluh) orang lagi melawan pasukan Tua’ Temah yang dipimpin macan geroba. Melihat pasukan musuh beringas bala Tua’ Temah berusaha bertahan dan membuat posisi pertahanan melingkar, selanjutnya Tua’ Temah nyelaing meloncat dari lingkaran melawan pemimpin bala musuh tersebut, semangat musuh rapuh mendengar selaing / pangkas Tua’ Temah hingga belum sempat pemimpin pasukannya maju, kepala pemimpin musuh jatuh tergeletak ketanah dipancung (pumpong) oleh Tua’ Temah, melihat demikian pertahan pasukan musuh rapuh/buyar dan musuh kehilangan strategi serangan membuat bala pasukan Tua’ Temah semakin semangat bertarung dan banyak menewaskan musuh.  Pada saat bantuan pasukan musuh yang kedua menyerang, Macan Geroba dengan keahliannya memanggil muanyi’ (lebah) agar masuk area serangan dan menyerang pasukan musuh yang datang membantu pasukan pertamanya. Disaat itu pula Macan Geroba secepat kilat mengayunkan nyaburnya, menumbangkan pemimpin musuh yang lain dan memenggal kepala pasukan musuh dan beberapa pasukannya. Dalam pertarungan kali ini dari seratus orang musuh yang menyerang, hanya satu orang dibiarkan hidup dan disuruh kembali pulang ke daerah nya guna memberi kabar. Setelah pertarungan didaerah ini, Macan Geroba pamit memisahkan diri guna menjaga serangan balik musuh dari arah sanggau yang mencoba mengejar Tua’ Temah bersama bala pasukannya. Seperti halnya Macan Pala, Macan Geroba’ membawa 5 (lima) orang bujang berani, dan berjanji kelak jika masih hidup beliau komitmen pulang membawa kepala kayau ke menua mualang. Selanjutnya bala Tua’ Temah beserta pasukannya berjumlah 10 (sepuluh) orang meneruskan perjalanan masuk kearah nanga mahap dan meneruskan kedaerah ulu ai’ sampai menuju ke hulu sungai pawan, sungai sepotong. Saat mengikuti sungai sepotong, mereka merasa haus dan coba untuk meminum air sungai tersebut dan terasa oleh mereka bahwa air sungai tersebut membuat segar hingga membuat mereka singgah di tepi sungai tersebut dan mengisi kerubung labu (tempat air) dengan air sungai tersebut, dan didaerah itu mereka tidak menemukan musuh / pengayau. Selanjutnya mereka menuju menua / kerajaan ulu ai’, setelah lama di wilayah  Ulu Ai’ dan melaksanakan maksud, tujuannya  bala Tua’ Temah berputar balik menuju sungai daerah Banyor, Gorai, Simpang dan di menua simpakng rombongan Tua’ Temah disambut masyarakat dengan hangat dan diterima oleh masyarakat setempat, selanjutnya rombongan tersebut berbaur dengan masyarakat daerah itu dan diantara mereka terjadi perkawinan dan memiliki keturunan. Tua’ Temah beserta rombongannya merasa betah di daerah tersebut mereka melebur dengan masyarakat dan mereka tidak pernah kembali lagi kedaerahnya. Kisah ini adalah satu diantara kisah yang pernah dituturkan oleh Alm. Pak Laten, beliau adalah seorang keturunan Tua’ Temah (panglima Iban Mualang) yang telah menjadi bagian dari masyarakat daerah simpang. Suatu saat beliau bertemu dengan keluarga orang-orang Iban mualang dan beliau menceritakan keturunan mereka.

Semoga kisah ini nantinya menjadi motivasi bagi generasi muda agar tetap semangat dan pantang putus asa dalam mencapai tujuan hidup.

Sumber :

Panglima Esay,

Panglima Jungor Tanyokng,

Alm. Laten.

 Di tulis ulang Th. 2020

 Keterangan :

1. Tua'  dalam bahasa Iban Mualang adalah : Gelar seorang pemimpin pasukan perang.

2. Manok Sabung merupakan istilah, guna menyebut para ksatria-ksatria / pendekar-pendekar jago-jago yang dapat diandalkan / wakil tuak di medan kayau.

3.    Bujang Berani adalah para pemuda / bala yang keberaniannya dalam bertarung tak diragukan, bujang berani adalah petarung sejati dalam mengayau.

4.     Gambar Ilustrasi dari Tropen Museum 1920

 

 

 


Tidak ada komentar: